<body topmargin="0" bottommargin="0" leftmargin="0" rightmargin="0"><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5330780?origin\x3dhttp://sajaksangkakala.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Dikirim 20.9.07    
SAJAK DUA JIWA 

Seperti tiada maaf lagi untukku
Ramadhan tetap Ramadhan
Seperti tiada hati lagi untukku
Ramadhan tetap Ramadhan

tidak ada yang melarang engkau untuk terus menuliskan namamu pada kertas-kertas koran, dinding-dinding perkotaan, situs-situs kesusastraan, narasi-narasi kematian, dan bahkan batu nisan pekuburan-pekuburan. yang melerai hanya detak di sanubarimu itu. Wajarkah?

menyeret apa saja mendekat, kau ajak ia berlari dan terus saja berlari ke dunia itu; dunia yang sangat jarang dikunjungi pelancong. engkau memang merasai selesa. Menikmati setiap inci langkah keegoisan, setiap tetes keringat kesendirian.

tidak kasihankah kau, badan yang lapuk itu terus saja harus menuruti titahmu. Malam dijadikan siang, siang dijadikan malam. ah, apa bedanya raga itu dengan keledai yang terus dicambuki penjaja kaki lima. dia sangat capek sekali.

tidak kasihankah kau, hati orang-orang yang sudah terlanjur tercarut? yang setengah nafasnya hampir menyatu dengan nafasmu. dan cobalah kau perhatikan, bukankah setengah nafasmu juga begitu? sudah hampir setengahnya menyatu dengan nafas mereka. tidak kasihankah kau, hatimu yang sudah terlanjur tercarut.

___________________________

Ah, kau fikir aku seperti keledai yang kau ceritakan itu? jika bukan aku yang menjadi pedagang kaki lima, tentu mereka. dan aku keledainya. apa kau tidak pula merasa mengajak apa saja mendekat untuk dibaptis menjadi pengikut-pengikut dungu.

teruslah berbicara tentang kelapukan raga, tentang segala keletihan. Lalu mengapa kau ajak ia berkeliling menelusuri Rumah-rumah ibadat yang jauh-jauh itu. Yang terdekat sajalah. di sini setiap radius seratur meter selalu kau dapati menara menjulang. menghitungi bintang-bintang. bukankah sama saja, kita sama-sama mengejar ketinggian itu?

dan mereka itu, siapa suruh mendekat? sudah tau aku sedikit gila. berani mendekakan diri, bukan hanya siap untuk lebih didekati; Tetapi harus siap pula untuk dijauhi. Justru seharusnya aku yang mencaci. Nafasku yang tercuri itu; Malah lebih dari setengahnya. Sudahlah aku capek. Salah-salah, bisa aku yang jadi keledai.

Ada kepentingan apa lagi?
aku sudah sangat jauh menyepi
Ada kepentingan apa lagi?
aku sudah sangat jauh menepi

Sept '07


Dicatat oleh Unknown, Jam 6:37 PM |    




Dikirim 17.9.07    
BIRU II ( FILM ) 

pada awalnya adalah ingin
kemudian kesempatan
pada awalnya adalah ingin
kemudian pengejaran

lalu ruang-ruang gelap
kadang bersendiri kadang berkumpul
di malam yang kantuk

pada awalnya adalah ingin
kemudian malu tergadaikan
pada awalnya adalah ingin
kemudian waktu terbiasakan

lalu ruang-ruang gelap
kadang menagih kadang tidak
di malam yang kantuk

pada awalnya adalah ingin
kemudian kebosanan
pada awalnya adalah ingin
kemudian terulang-ulang

lalu ruang tak lagi gelap
sebatas hiburan mungkin
di malam yang kantuk

pada awalnya adalah ingin
kemudian memilih
pada awalnya adalah ingin
kemudian mencari

lalu ruang memang tak gelap
sebatas kebebasan
di malam yang tak lagi kantuk

ah, di kegelapan manakah
manusia berhenti onani?

Masbak Juli '07


Dicatat oleh Unknown, Jam 4:57 PM |    



BIRU III (PERASAAN) 

berlari, berlarilah sejauh mungkin
ke taman-taman, pantai-pantai

berlari, berlarilah sejauh mungkin
lucuti waktu itu, telanjangi

berlari, berlarilah sejauh mungkin
tak jauh, sejauh bayangan sendiri

Sept '07


Dicatat oleh Unknown, Jam 4:56 PM |    



MERDEKA II 

Ah, merdeka kawan ! Mari kita pancangkan bendera yang mungkin sudah tidak lagi berwarna itu.

Ah, merdeka kawan ! Jangan biarkan suara-suara benci menangisi ketiadaberdayaan terus terulang.

Ah, merdeka kawan ! Narasi-narasi yang singgah papahlah ia ke tujuan terakhir-ke tujuan terakhir.

Siapa saja bisa berlari
mengapa berlari jika tidak terburu
Siapa saja bisa membenci
mengapa membenci jika tak keliru

Ah, keliru kawan ! Rupanya nuansa komunikasi terlalu lamban bergerak, rasaku rasamu sebentar kantungi sebentar kantungi sebentar.

Ah, keliru kawan ! Kompas tergoyang, selalu akan kembali ke utara akan kembali ke selatan. Kerusuhan datang, selalu akan kembali ke kediaman akan kembali ke ketenangan.

Ah, keliru kawan ! Kebebasan seharusnya tidak melalui sungai darah, cukuplah cukup kemerdekaan itu. Pantas memang mengorbankan selaksa henti urat nadi.

Ah, pecundang ! Ini diksi !
mengapa tak kau isi saja dengan benci.

Ah, merdeka kawan !
Siapa saja bisa berlari
mengapa membenci jika tak keliru

Agustus 2007


Dicatat oleh Unknown, Jam 4:56 PM |    



PASAK 

busana kesepakatan akan asap
setelah api setelah rindu yang runtuh
talenta kesendirian akan tatap
setelah api setelah rindu yang runtuh

o, anulir pautan-pautan
tanpa itu tanpa

engkau bercengkrama bersama ruang
busana kesepakatan akan asap
tertemui kendali implisit di luang
busana kesepakatan akan asap

o, pertanyaan-pertanyaan
pautan itu pautan

laksa aksi enggan menepis
talenta kesendirian akan tatap
lagi ulasan nadir berlapis
talenta kesendirian akan tatap

o, anulir bentuk-bentuk
pertanyaan itu pertanyaan

tertemui kendali implisit di luang
setelah api setelah rindu yang runtuh

Jun '07


Dicatat oleh Unknown, Jam 4:55 PM |    



RESONANSI #07 

apalagi yang kau inginkan,
aku sudah sejauh ini mencaci

apalagi yang kau inginkan,
aku sudah sejauh ini berlari

berlari sudah aku berlari,
bermukim di gubuk teratas

berlari sudah aku berlari,
bersemedi di malam terlarut

terlarut memang terlanjur terlarut
apalagi yang kau inginkan

Sept '07


Dicatat oleh Unknown, Jam 4:54 PM |